INILAH HAL-HAL YANG MENJADI SUMBER MASALAH ANTARA MERTUA DAN MENANTU

INILAH HAL-HAL YANG MENJADI SUMBER MASALAH ANTARA MERTUA DAN MENANTU – Dalam hubungan rumah tangga, perselisihan antara menantu dan mertua memang sudah sering terjadi. Dan terus terjadi dari dulu hingga di era saat ini pun masih terjadi dengan berbagai cerita. Lalu pertanyaannya, apa yang menjadi sumber permasalahannya?

Memang tidak semua menantu dan mertua bertengkar bak anjing dan kucing. Ada juga yang hubungannya relatif datar dan terbalut harmonis. Semuanya tentu tergantung bagaimana kondisi individu masing-masing. Gambaran hubungan seperti ini menjadi modal penting dalam menjalani ikatan pernikahan yang damai dan harmonis.

Sementara perselisihan diantara dua insan ini, yang berlangsung terus menerus, sangat rentan menjadi sumber utama keretakan dalam hubungan rumah tangga. Khususnya di antara menantu perempuan dan mertua perempuan. Banyak para suami yang dipusingkan harus bertindak bagaimana. Ingin membela istri, namun takut menyakiti hati ibunya sendiri. Dan sebaliknya, istri juga mudah terluka ketika suami mereka lebih memilih ibunya.

Alhasil pertikaian antar personal ini kerap terjadi dan bahkan sulit diselesaikan. Menguap tetapi tetap meninggalkan jejak yang kuat. Begitu ada faktor pemicu langsung terjadi ledakan yang hebat.

Nah, berikut ini adalah beberapa hal yang menjadi sumber permasalahan antara mertua dan menantu.

1. Beda pandangan.

Salah satunya disebabkan oleh beda pandangan akibat perbedaan generasi. Ibu mertua dapat dikatakan tumbuh dari generasi terdahulu dengan nilai serta norma tersendiri. Sama halnya dengan menantunya. Dibesarkan dan bergaul di zaman yang tak sama dengannya.

Otomatis perbedaan ini menghasilkan perbenturan yang tidak bersahabat. Dalam menyelesaikan urusan rumah tangga harian, soal keuangan, pilihan karier, menentukan pola asuh anak, termasuk cara melayani suami.

2. Berebut kasih sayang.

Ada kecenderungan untuk berebut kasih sayang. Ibu mertua tidak ingin kasih sayang dan waktu anaknya dihabiskan dengan perempuan baru dalam hidupnya.

Para menantu tidak ingin suaminya lebih dekat dengan ibunya, berada dalam bayang-bayang ibunya, atau tidak bisa mengambil keputusan tanpa persetujuan ibunya. Bayangan yang juga kerap disebut dengan istilah anak mama.

3. Muncul kompetisi.

Alih-alih kolaborasi, hubungan antara menantu dan mertua lebih banyak yang mengarah ke kompetisi. Apalagi bila sebelumnya tidak banyak saling mengenal satu sama lain. Sama-sama ingin ditempatkan dalam posisi pemenang. Artinya yang satu kalah dan mesti tunduk. Pernikahan dijadikan ajang macam perlombaan. Bukan sebagai persatuan yang mengikat dua keluarga menuju silaturahmi yang harmonis.

4. Saling ingin dimengerti.

Keduanya juga sama-sama ingin dimengerti. Bahwa metode, pandangan, etos hidup, norma yang diterapkan adalah yang paling benar. Terlebih tidak ada ruang untuk saling menghargai dan berdiskusi. Yang terjadi langsung memberlakukan suatu terapan tanpa menjelaskan alasan. Mungkin akan dipatuhi, akan tetapi sangat berpotensi menyimpan ketidaksetujuan di dalam angan.

5. Salah satu mendominasi.

Perselisihan menantu dan mertua juga dikarenakan oleh salah satu pihak terlalu mendominasi. Tidak memberikan kesempatan untuk sama-sama menjalankan peran. Pihak yang mendominasi berperangai menentukan segala sesuatu hal. Sedangkan yang lainnya tinggal menjalankan tanpa boleh menggugat sedikitpun. Ketiadaan iklim demokrasi ini tentu membawa pada jurang peperangan. Membuat konflik menantu dan mertua terus terjadi sebagai kisah abadi.

Baik saudaraku semuanya, saya rasa cukup sekian pembahasan kali ini.

Jika anda sedang mengalami masalah yang serupa dalam hubungan rumah tangga Anda, silahkan Anda bisa menghubungi saya di nomor yang ada di bawah ini untuk berkonsultasi lebih lanjut.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp Chat Via Whatsapp